“MENGEJAR ANGAN DI PESANTREN”
Masa SMP adalah masa yang sangat labil bagi seorang gadis yang baru menginjak remaja. Arika Putri Ariani adalah seorang gadis remaja yang lebih memilih sekolah berbasis Pendidikan Pesantren. Menurutnya, Pendidikan yang dibutuhkan untuk generasi bangsa khususnya muslim, haruslah seimbang antara pengetahuan umum dengan agama, sehingga ia akan tahu kemana arah ia akan melangkah menuju cita-cita yang diimpikan, dan memiliki alarm jika salah dalam melangkah.
Dari kecil ia sudah diajarkan oleh orang tua nya untuk berhijab, berpakaian rapi dan menghargai orang yang lebih dewasa darinya. Orangnya tidak pernah diam, dia selalu melakukan hal-hal konyol yang menurutnya asik dan membuatnya bahagia. Tapi teman-temannya tidak pernah merasa risih, bahkan ketidakhadirannya pun mereka mencari dan merasa kehilangan. Karena orangnya periang, aktif dan tidak gengsian, Arika lebih dikenal banyak teman.
“Bu, Arika ingin sekolah ke pesantren terkenal, yang bangunannya tinggi-tinggi itu loh” kata Arika merayu ibunya
“Alhamdulillah, ibu senang kamu ingin ke Pesantren”. Saut ibunya dengan rasa bahagia mendengar anaknya ingin belajar di Pesantren
Setiap ada kesempatan Ibunya tidak pernah berhenti mencari Pesantren yang cocok untuknya, hingga pada akhirnya ibu menemukannya. Arika senang dan bahagia, meskipun tidak sesuai dengan harapannya. Terkadang pilihan Allah lebih indah daripada harapan besar kita. Allah tahu mana yang terbaik.
“Nak, tidak apa-apa ya kamu sekolah disini, tidak terlalu mahal sederhana pula, meskipun tidak sesuai yang kamu inginkan, melihat ekonomi keluarga kita tidak akan mampu membiayai kamu ke sana, apalagi dengan keadaan bapak mu yang seperti ini” kata ibunya
Arika mencoba tersenyum, “Bu, gak apa-apa Arika senang kok, dimana pun tempatnya Arika tetap mau tinggal di Pesantren. Mungkin dengan kesederhanaan ini, Arika menjadi lebih baik dan lebih mandiri.” Saut Arika sambil memeluk ibunya.
“Iya sayang, terimakasih sudah memahami keadaan kita, belajar dimanapun tetap sama yang penting kita sungguh-sungguh dan tekun. Mudah-mudahan dengan niat baikmu akan mengubahmu menjadi wanita yang lebih baik”.
***
Hari dimana Arika masuk pesantren, suasana islami menghangatkan hatinya. Di sudut ruang penuh dengan tulisan kaligrafi, kalimat-kalimat motivasi ditambah dengan indahnya lantunan sholawat santri. Tak ada satu pun sampah yang tercecer dimana-mana, semua rapi dan bersih. Ada satu kalimat yang membuatnya termotivasi “Jika Kamu Tak Tahan Lelahnya Belajar Hari Ini, Maka Kamu Harus Siap Menanggung Perihnya Kebodohan Kelak”. Kalimat itu membuat Arika semakin semangat dan yakin untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu. Dengan tekad yang bulat ia siap belajar di Pesantren.
Arika mengamati setiap sudut tempat. Tempat yang katanya sebagai Gudang Seribu Barokah. Dengan lantai berubin-ubin semen dan berwarna sedikit keabu-abuan memberikan rasa nyaman bagi siapapun yang menempatinya. Para penghuninya pun seperti malaikat, kepalanya dilapisi kain yang mereka sebut kerudung katanya. Tutur kata dan kelakuannya yang baik membuatnya tersentuh luluh menanggapinya.
Suasana yang sangat berbeda dari sebelumnya. Arika berubah menjadi pendiam, karena memang ia santri baru masih malu-malu. Ia memang cuek jika bertemu dengan orang baru, rasa malunya memang besar, tapi kalo sudah kenal dan dekat malah malu-maluin. Arika mencoba berkenalan dengan teman-teman sekamarnya. Sedikit demi sedikit ia mulai akrab dengan teman-temannya.
“Saahsibukum hattal ‘asyiroh… wahid… itsnani….” Teriak kaka mudabiroh dari ujung pintu aula. Mudabiroh adalah pengurus organaisasi di Pesantren. Suaranya kalo sudah memanggil A’do (anggota santri) sampai terdengar dari ujung masyrik ke ujung maghrib. Mendengar suara itu semua santri segera bergegas pergi dan memenuhi panggilan itu. Setiap hari dan setiap waktu apapun kegiatannya selalu dihitung. Kedisiplinan Pondok memang lebih diutamakan, santri dituntut untuk tepat waktu dalam melakukan hal apapun.
Arika menjalankan peraturan Pondok dengan patuh dan senang, sampai ia merasa betah dan nyaman. Ia memang aktif dan periang, kekonyolan yang menurutnya bahagia dan bisa membahagiakan orang lain sudah menjadi bagian dari hidupnya. Tiga tahun perjalanan Arika hidup di Pesantren selama masa sekolah MTs, segala keluh kesah, kesedihan, dan kebahagiaan, apalagi kelakuannya yang membuat semua orang jengkel. Menginjak masa SMA ia sedikit mulai berubah, yang tadinya tidak suka pakai bedak sekarang dia mulai mau untuk memakainya.
“Tumben kamu make up, biasanya juga nggak, seorang Arika wanita anti make up, jangankan pake lipstick bedak aja kamu ogah.” Ledek temannya (ehh… di pondok kan dilarang pake lipstick)
“ishh apa sih kamu Win. Denger yaa aku Cuma pake bedak doang lagian kamu juga kan yang suruh aku buat dandan. Apalagi sekarang kan kita udah masuk SMA, sedikit kinclong gak apa-apa kali ya... hehe” Arika mencoba membela sambl menatap wajahnya ke arah cermin.
“Iya iya, baguslah kalo gitu, jadi aku gak cape lagi nyuruh kamu belajar dandan” cetus temannya.
****
Hari senin merupakan hari yang sangat ditunggu oleh setiap santri, di hari itu semua santri bersiap-siap memasuki kelas untuk mengikuti Pekan Ta’aruf bagi santri baru. Tak terkecuali dengan Arika, ia sudah bersiap-siap sedari pagi dan memasuki kelas seraya menunggu teman-teman yang lainnya.
Kriiing… kriiing… Bel pun berbunyi.
Arika duduk di bangku depan sebelah sudut kiri, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.
“Hai… aku Anisa, boleh aku duduk di sebelahmu?”
“Hai… aku Arika, boleh silahkan” ucap Arika seraya membenahi bangku di sebelahnya agar teman barunya bisa duduk di sampingnya.
Mereka menyempatkan mengobrol ringan seputar perkenalan. Sebelum akhirnya ustadz datang untuk membuka dan menyampaikan kegiatan hari ini.
“Tok... tok… tok…Assalamu’alaikum” ujar ustadz seraya memasuki kelas
“Wa’alaikum salam Warohmatullahi Wabarokatuh” jawab semua santri dengan kompak.
Setelah ustadz menyampaikan prakatanya, ustadz memberitahukan hal-hal dan kegiatan apa saja yang mesti dilakukan para santri baru dan santri lama yang baru menginjak ke Aliyyah.
“Santriwan santriwati, sebelumnya ustadz akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama ustadz Muhamad Irfa Nurfadhli, panggil saja ustadz Irfa, hari ini ustadz akan menyampaikan jadwal kegiatan kita selama satu minggu ke depan. Dimulai hari ini, materinya adalah pembukaan Pekan Ta’aruf, dimana kita akan saling berkenalan satu sama lain, supaya kita saling mengenal dan lebih akrab, seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, bukan begitu?” seraya menyunggingkan senyum, sehinga terlihatlah gigi yang berdelet putih. `
Panjang kali lebar dibagi dua, ustadz Irfa menjelaskan kegiatan untuk santri baru, setelah itu ustadz Irfa mempersilahkan santriwan santriwati maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing. Dan yang pertama maju adalah Anisa.
“Assalamu’alaikum Wr. Wb teman-teman perkenalkan nama saya Anisa Khumaira, panggil saja saya Nisa atau Anisa”
“Asal jangan Umay aja, nanti kepanjangnnya Kamseumay, ha… ha… ha…” celetuk salah seorang santri putra yang sudah lama sekolah disini, sejak ia masuk MTs. Dan meneruskan sekolah Aliyahnya di tempat ini.
Sontak saja seluruh santri tertawa, ustadz Irfa mengondisikan kelas dengan menyuruh seluruh santri untuk diam, dan mempersilahkan Anisa melanjutkan perkenalannya. Tibalah giliran selanjutnya, yaitu Arika. Dengan berdebar Arika maju dan mulai berbicara untuk memperkenalkan dirinya, ia mencoba mengendalikan diri dengan bersikap sedikit pecicilan agar tidak terlihat gerogi.
“Hai…” ucapnya sambil melambaikan tangan
“Assalamu’alaikum Wr. Wb perkenalkan nama saya Arika Putri Ariani, saya kelas IV TMI atau kelas X Aliyyah, cita-cita ingin menjadi ustadzah, hobby saya makan, tidur, ngafal, ngayal, dan ngemil, tinggi badan 150 cm berat badan….”
“Pasti sama kayak tinggi badannya, ha… ha…” celetuk suara santri putra diujung bangku sebelah kanan, ia merupakan santri putra baru yang belum mengerti tata krama dan aturan Pesantren. Dan untuk kesekian kalinya satu kelas penuh dengan gelak tawa akibat ulah santri putra tersebut.
Arika pun ikut nyengir untuk menutupi rasa malunya, namun dalam hatinya ia berucap “Siapa sih dia…? Nyebelin banget ini orang, baru masuk udah dibuat malu… hmmmm”
Satu demi satu seluruh santri maju untuk memperkenalkan dirinya masing-masing, hingga tak tersisa satupun. Bel istirahat berdering.
Kriiing…. Kriiing….
“Anak-anak, perkenalan kita hari ini sudah selesai, bel istirahat sudah berbunyi. Silahkan kalian istirahat kurang lebih 15 menit, setelah itu masuk lagi untuk mengikuti materi berikutnya.” ucap ustadz Irfa sambil menutup perkataannya.
Satu persatu para santri pun mulai meninggalkan kelas, ada yang memburu kantin, ada yang lagi baca-baca buku risalah dan ada juga yang sedang muroja’ah.
***
Sedang asyiknya Arika duduk di teras sekolah dengan menyenderkan tubuhnya ke tiang penyangga bangunan sekolah, jilbab putihnya yang panjang menjuntai sesekali bergoyang tertiup angin. Kedua bola matanya berpusat pada sebuah buku yang sedang ia baca, kegiatan membaca merupakan salah satu hobby barunya beberapa tahun belakangan ini, namun kali ini Arika tidak seperti biasanya, ia sedang tidak fokus membaca, Ia sedikit melamun, teringat perbincangan dirinya dengan ibunya di ruang tengah, Saat itu ia tengah membicarakan terkait akan melanjutkan sekolahnya ke tempat yang masyhur dan terkenal, tapi hal itu membuatnya tak sanggup untuk menggapainya karena keadaan yang memaksa dan perekonomian yang tidak sejalan.
Door……
Serentak seseorang membuyarkan lamunan Arika, ternyata Dia sudah memantaunya dari kejauhan.
“Astagfirullah… kamu orang yang tadi ledek aku pas di kelas itu kan?
“Hehee…... tepat sekali” Jawabnya
“Dasar!! ngapain kesini ganggu orang aja?” Tanya Arika cetus.
“Eealaahh… siapa yang mau gangguin kamu, kebetulan tadi aku lewat area sini mau ke kantin, liat kamu ngelamun makanya aku samperin, lagian ya ngapain sih siang-siang gini ngelamun? Nanti kesambet baru tau rasa kau heee…”
“Iiiiihh…. Ya emang kenapa suka-suka aku lah !!!” (lagi-lagi tekanan darah Arika semakin tinggi, bisa-bisa darting nih) “Sok kenal banget sih dia sama aku, siapa sih masih baru juga?!!” cetus Arika sambil dengan suara samar dan sedikit kecil agar tidak terdengar olehnya.
“Bilang aja mau kenalan gitu, gengsi banget Bu. Gak usah di hehem juga kali ngomongnya!!” (kata Santri putra itu sambil mengambil posisi duduk di sampingnya Arika) “Kenalin ismi Ali, ji’tu min Pandeglang, dulu aku juga pernah mondok tapi cuma beberapa bulan aja soalnya gak betah, cita-citaku ingin menjadi seniman hebat, aku juga suka melukis loh… apalagi kalo melukis wajah ka……” Panjang lebar dia ngomong, Arika langsung menyekaknya.
“Sssstttt… gak usah diterusin !! panas telingaku dengar kamu ngomong panjang lebar. Aku Arika, santri lama disini jangan macem-macem kau!” tegas Arika mengancamnya.
“Uusshh…. Santai kali. Pantas saja… muka-muka lama keliatan dari wajahnya GARANG!! Hehee…” gelitik candaan Ali mulai beraksi.
“Maksudmu Aku ini cewe menakutkan? Emang wajahku kaya Srigala? Nyebelin banget si jadi orang!!” Arika geram, ia tak sudi dikata wajahnya garang
“Idiiihh galak amat, aku cuma bercanda. Tapi bener ko kamu garang kaya SERIGALA, hahaha…” kali ini akbar bikin Arika kesal sambil ia lari meninggalkan Arika.
“Aliiiii !!” kesal Arika, dia benar-benar jengkel malihat ulahnya Ali. Pertemuan pertama Ia dengan Ali, membuatnya tak sudi untuk melihatnya kembali, rasa kesal dan geram masih tersisa dihatinya.
***
Semakin lama kedekatan Arika dengan Ali seperti Tom & Jerry, mereka tidak pernah akur. Setiap ada Ali dan Arika berasa ada di dalam Jahannam. Pertengkaran mereka sudah tidak asing lagi bagi teman-teman yang menyaksikannya, bahkan mereka merasa aneh bila Arika dan Ali tidak bertengkar dalam waktu sehari saja.
Cukup lama Arika mematung di atas salah satu bangunan kelas, memandang keindahan alam, diiringi dengan kicauan burung dan hembusan angin membuatnya tenang ke dasar jiwa. Sambil membuka-buka buku pelajaran dan bermuroja’ah, tak lama setelah itu, pundak Arika ada yang menepuk sedikit keras hingga ia mengaduh.
“Aduh…. Siapa sih” (ucap Arika sambil menoleh) nyatanya Ali datang menghampiri.
“Hehehee… I’m so sorry” (kata Ali dengan muka tak berdosa)
“kamu lagi apa sih?” tanyanya dengan sedikit lembut.
“Apa siih, lagi-lagi kamu Ali selalu saja mengganggu lamunanku” cetusnya. “Kenapa? Mau apa? males aku debat sama kamu”
“Ehhh dasar… Arika, aku mau ngomong serius sama kamu”
“Heuh… tumben serius amat, abis makan apa kau? Paling ujung-ujungnya juga adu omong” (selorohku dengan cuek)
“Arika, aku serius mau ngomong. Selama ini aku suka sama kamu!” (tegas Ali dengan mantap, karena sebenarnya jantung Ali berdebar seakan mau copot. Membutuhkan keselarasan antara hati dan mental yang kuat).
“Hah? hahaha… that impossible!! Don’t waste time to talk about this. Please !! lucu ya kamu” (jawab Arika sambil tertawa geli, tentu saja dia tertawa, seorang Ali ngomong suka? Kesambet jin apa dia)
“Arika aku gak bercanda ya, aku serius. Aku senang berantem sama kamu, dengan aku bercandain kamu sampai kamu kesal sama aku sebenarnya itu caraku supaya bisa dekat sama kamu, percayalah. Maukan jadi kekasihku?”
Arika sedikit gemetar, hatinya terkejut setelah mendengar pertanyaan yang diucapkan Ali. Ia tetap menunduk pada buku yang ia baca. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang gugup, lalu ia mengangkat wajahnya setelah ia mampu menguasai diri. Sebenarnya ia masih tidak percaya dan menganggap ini hanya akal-akalannya saja untuk mengawali pertengkarannya.
“It’s okay… makasih udah suka sama aku.” (Ali tersenyum gugup) “kenapa tiba-tiba nembak aku? Aku juga suka sama kamu, tapi… sebagai sahabat Al, kita kan gak boleh pacaran, aku juga gak mau pacaran, apalagi kita di Pondok dilarang pacaran. Aku juga mau fokus belajar, kamu juga harus lebih fokus, sebentar lagi kita akan ujian akhir sekolah yang akan menentukan lulus dan tidaknya. Aku harap kamu mengerti Al. kita tetap jadi sahabat baik kok. Okey…. Udah lahh aku lapar mau makan” (ucap Arika lalu berdiri dan berlalu keluar tanpa memberi kesempatan pada Ali untuk bicara).
“Tapi Arika…… euu… tungg...” (Arika sudah tak terlihat lagi)
***
Musim berganti, libur semester pun tiba. Arika dan seluruh santri bersiap pulang untuk berlibur. Mereka sangat antusias memanfaatkan liburannya yang hanya satu minggu itu. Dua hari berlalu waktu libur, Arika sedang asyik menonton tv, tak lama suara dering handphone berbunyi tanda panggilan masuk. Langsung saja Arika melihat layar ponselnya ternyata nomor yang tak dikenal. Arika lalu meletakkan kembali hp-nya karena tidak berniat mengangkatnya. Barulah ia mengangkat setelah berdering yang ketiga kalinya.
“Hallo… Assalamu’alaikum”
Terdengar suara laki-laki di handphone itu, tentu ia kenal dengan suaranya yang tidak asing lagi. Yaa… Ali Oncom lawan debatnya memberanikan diri mencoba untuk menelpon Arika pertama kalinya, sontak saja Arika terkejut dan bertanya-tanya dapat nomornya dari siapa. Tak sempat berfikir panjang, akhirnya mereka mengobrol panjang, tetap saja dalam perbincangannya selalu saja Ali membuat Arika kesal. Tak terlepas dari itu, Ali kembali meminta Arika untuk mau menjadi kekasihnya, dan Arika pun menolak dengan tegas.
Beberapa hari kemudian, Ali nekat datang ke rumah Arika dan memohon kembali agar mau menjadi kekasihnya. Akhirnya dengan terpaksa ia menerimanya, menghargai perjuangan Ali yang jauh-jauh dari pandeglang ke malingping hanya untuk memintanya menjadi kekasih. Mereka pun sering bertukar kabar lewat sosial media. Namun keindahan yang dirasakan Ali tak bertahan lama, karena Arika memutuskan untuk mengakhiri hubungannya. Arika sadar, apa yang dilakukannya itu salah, ia tak ingin membohongi dirinya dan Ali karena sebenarnya ia tak cinta, ia hanya menganggapnya sebatas sahabat, ia pun tak ingin melanggar aturan pondok, merasa membohongi kedua orang tua yang sudah banting tulang membiayainya. Ia tak ingin waktunya sia-sia untuk hal yang tidak penting. Akhirnya hubungannya berakhir hanya bertahan empat hari.
***
Setelah satu minggu berlalu liburan semester pun usai. Seluruh santri kembali ke Pondok dengan riangnya menceritakan liburannya masing-masing. Arika hanya menyimak dan tersenyum. Namun, kesedihan bagi Ali belum juga usai, ia masih merasa sedih karena Arika memutuskan hubungannya dengan tiba-tiba. Akan tetapi satu bulan kemudian, Ali kembali mengajak bertemu dengan Arika dan memintanya lagi untuk menjadi kekasihnya. Arika jelas menolak, namun Ali tak kehabisan cara untuk memohon pada Arika.
“Tolong, beri aku kesempatan satu kali lagi” (ucap Ali memohon dengan suara yang sangat lembut)
Akhirnya Arika luluh karena merasa kasihan. Namun lagi-lagi hubungan mereka kandas dan tepat hanya bertahan dua bulan saja, karena diketahui oleh seluruh assatidz. Mereka berdua dipanggil ke ruang keamanan, diinterogasi dan dinasehati oleh ustadz, pun tak lepas dari hukuman. Mereka menangis dan menyesalinya serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Setelah itu Arika menegaskan kembali kepada Ali untuk tidak lagi menjalin hubungan apapun alasannya, Ali pun menerima dengan lapang dada karena ia merasa bersalah sudah memaksa Arika menjadi kekasihnya. Mereka tetap berteman baik hingga sekarang, namun jarang sekali terdengar pedebatannya di dalam kelas tidak seperti dulu layaknya kucing dan anjing.
Hingga di penghujung semester, acara pelepasan santri kelas VI. Berkat ketekunannya dalam belajar, Arika berhasil lulus dengan menyandang yudisium JAYYIDAH, dan Ali hanya yudisium HASAN, karena memang Arika lebih pintar dalam bidang akademik daripada Ali. Sebelum berpisah dengan Ali, Arika sempat diberi kalung sebagai kenang-kenangan terakhir. Kemudian mereka berpisah demi mengejar harapan dan impiannya masing-masing.
*****
ROBBI’ATUL AMELIA lahir di Tangerang 2001, merupakan Mahasiswi STKIP Setia Budhi Rangkasbitung dengan program study Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia pun seorang santri lulusan dari Pondok Pesantren Modern Daar El-Karim Pagelaran Malingping dan masih menjalankan masa pengabdiannya selama 2 tahun. Motto hidupnya “If you can’t be intellegen, be a good person”.
Alamat email penulis ameliaqueen406@gmail.com Instagram @ameliaqueen08